Dua Dunia di Satu Koridor Kampus
Ranting Khairana, mahasiswa PSI Unpad 2025 yang memiliki sejuta mimpi, menganggap kuliah jauh lebih serius dari kebanyakan orang. Bagi sebagian mahasiswa, kehidupan perkuliahan saja sudah cukup membuat lelah. Namun bagi Ranting yang memiliki jutaan mimpi, tidak pernah absen kelas saja tidak cukup.
Ada sejuta mimpi yang sedang mati-matian mahasiswa PSI itu perjuangkan. Mimpi yang memerlukan banyak hal untuk bisa terwujud. Seakan mendapatkan nilai bagus saja tidak cukup, dia kini sedang membangun satu persatu anak tangga dengan mengumpulkan berbagai pengalaman berharga untuk masa depannya.
Mengikuti kepanitiaan perlombaan bertaraf internasional yang prodinya adakan. Menjadi vice project officer acara bertajuk Sekolah Legislatif sebagai bagian dari kewajibannya di Hima. Memberanikan diri mewakili prodinya di ajang Putra Putri Fikom (PPF). Hingga bekerja di salah satu brand busana sebagai content creator sekaligus host live.
24 Jam Kehidupan Mahasiswa Ranting
Pertengahan Mei kemarin adalah minggu di mana sepertinya bernafas dengan tenang pun tidak sempat mahasiswa PSI itu lakukan. Mengawali Senin pagi dengan menghadiri kelas, tanpa sedikit jeda raganya sudah harus siap untuk kemudian mengikuti sesi photoshoot PPF, dan tanpa belas kasih sudah ada rapat kepanitiaan yang menunggunya di pintu keluar.
Tiga hari kemudian kegiatannya berfokus selain berkuliah, namun juga menjadi panitia untuk perlombaan yang sedang prodinya adakan. Di waktu yang sama dia harus berlatih Unjuk Kabisa dalam rangkaian PPF di akhir pekan. Tidak lupa kewajibannya untuk bekerja yang terus mengikuti.
Semua orang sama memiliki jatah waktu 24 jam dalam sehari. Namun bagaimana Ranting bisa membaginya untuk semua kegiatan yang dia punya, dan memastikan energinya selalu tersedia adalah hal yang menarik untuk dibahas.
Memiliki manajemen waktu yang baik adalah sebuah keharusan. Seluruh kegiatan yang dia ikuti selalu ada di antara dua tipe. Tipe pertama adalah kegiatan yang jadwalnya sudah tetap dan tidak mungkin berubah. Sedang tipe lainnya adalah kegiatan yang memiliki waktu fleksibel, sehingga memungkinkan Ranting menyesuaikannya untuk mengurangi risiko jadwal yang bertabrakan.
Kunci untuk tidak pernah kehabisan energi dalam bersosialisasi adalah dengan memastikan diri kita berada di lingkungan yang memiliki tujuan untuk bertumbuh sama seperti kita, ujarnya. Memastikan bahwa orang-orang di sekeliling kita adalah mereka yang selalu memiliki semangat tinggi juga membantu kita turut merasakan atmosfer tersebut, sehingga tidak perlu takut kehabisan energi.
Dari selusin agenda yang ada di kalendernya, sudah pasti satu dua jadwalnya berbenturan di waktu yang sama. Ketika hal seperti itu terjadi, satu yang menyelamatkannya adalah kemampuan kita menentukan mana yang menjadi prioritas dan tidak bisa berubah.
Air Mata dan Harga yang Harus Dibayar
Sebuah perjalanan tidak mungkin hanya menyajikan jalanan yang mulus tanpa bebatuan. Apalagi bagi Ranting, mahasiswa yang memiliki sejuta mimpi. Tidak mungkin katanya menghindari capek dan jenuh ketika setiap kegiatan menyodorkan masalahnya masing-masing.
Tapi menyerah bukanlah akhir yang Ranting inginkan. Satu kali kita memutuskan untuk mengambil tanggung jawab pada suatu hal, maka kita berkomitmen untuk menyelesaikannya apapun yang terjadi. Prinsip yang tidak pernah Ranting lepas dalam setiap perjalanannya.
Ada satu waktu di mana setelah sekian banyak tekanan yang datang, satu-satunya reaksi dari tubuhnya adalah menangis. Ketika itu Ranting mendapat kepercayaan menjadi vice project officer acara Sekolah Legislatif. Seperti kalimat yang seringkali terdengar, great power come with great responsibility. Semua masalah yang terus saja datang di tiap tahapan acara ternyata membuat Ranting kewalahan juga pada akhirnya.
Namun mau sebanyak apa pun dia menikmati dan merasa senang dengan seluruh kesibukan yang dia jalani, tetap ada hal-hal yang harus rela Ranting korbankan demi menyelesaikan proyek anak tangga yang sudah susah payah dia bangun.
Waktu untuk dirinya sendiri, sekadar istirahat atau melakukan hal-hal yang dia sukai. Waktu untuk keluarganya, seperti obrolan ringan malam hari yang kini kian susah dia lakukan. Atau waktu untuk teman-temannya, seperti menghabiskan akhir pekan mengunjungi tempat-tempat viral bersama yang terpaksa tidak terlaksana.
Seperti kesibukan sudah menjadi bagian darinya, Ranting justru merasa kosong ketika pada akhirnya mendapatkan satu hari tanpa adanya hiruk pikuk agenda yang biasa mengikutinya. Sebuah ironi ketika sebelumnya dia mengatakan bahwa salah satu hal yang hilang adalah waktu untuknya sendiri.
“Usahakan hidup yang lebih bermakna. Karena ketika kita lelah, hal yang bisa kita ingat adalah bahwa hidup kita itu berarti. Entah untuk diri sendiri, keluarga, teman, atau siapa pun itu.”
Dunia Mahasiswa dan Lampu Sorot Orang Tua
Jika kita melihat kehidupannya sebagai sebuah perjalanan yang penuh ambisi, Ranting lebih senang menyebutnya sebagai perjalanan untuk dirinya mencoba semua rasa penasaran yang datang. Baginya, semua hal yang dia ikuti adalah tempat terbaik untuknya belajar.
Bagaimana suatu individu berinteraksi, bagaimana mereka bekerja sama ketika dalam satu kelompok, adalah hal-hal yang membuat Ranting selalu senang mengikuti berbagai kegiatan. Ranting menyebutkan bahwa selama bukan hal yang buruk, semua kegiatan yang kita lakukan akan selalu menawarkan pelajaran yang berharga, yang nantinya berguna untuk masa depan kita.
Ketika SMA, tidak banyak yang bisa Ranting lakukan. Terlalu monoton, katanya, ketika menggambarkan kehidupan SMAnya. Kuliah memberikannya banyak kesempatan untuk memberanikan diri mencoba banyak hal baru. Kesempatan untuk berkembang dan mencari jati diri.
Tidak satupun dari orang tuanya memberikan tekanan lewat harapan-harapan tinggi yang mereka tetapkan. Tapi sebagai anak, Ranting merasa sudah kewajibannya membanggakan sepasang manusia yang sudah memberikan semuanya agar Ranting bisa hidup dengan baik.
Mengibaratkan dunia perkuliahan sebagai panggung, Ranting menganggap kedua orang tuanya adalah lampu sorot yang menyinarinya agar bisa terlihat. Sebagai pemeran, tentu Ranting tidak mau menampilkan sesuatu yang biasa saja atau bahkan buruk. Dia ingin memperlihatkan yang terbaik kepada orang tuanya, hidupnya, dan orang-orang yang peduli padanya.
Meniti Anak Tangga Menuju Sejuta Mimpi
Seperti di awal, Ranting adalah seorang mahasiswa PSI yang memiliki sejuta mimpi. Sejuta mimpi yang menuntut kerja keras darinya. Mimpi-mimpi yang membuatnya merasa bahwa berdiam diri adalah hal yang tidak sepantasnya dia lakukan.
Lewat semua hal yang dia ikuti, dia merasa seperti sedang membangun satu demi satu anak tangga yang kemudian akan mengubah seluruh mimpinya menjadi kenyataan.
Ranting meyakini bahwa semua hal yang kita usahakan, mau itu hal kecil sekalipun, akan menjadi manfaat untuk orang lain. Keyakinan yang membawanya pada keputusan untuk hidup lebih lama lagi, agar ada lebih banyak orang yang bisa merasakan manfaat dari apa yang sudah dia lakukan.
“Hidup itu singkat. Pastikan kita menghabiskannya untuk semua hal baik yang membuat kita bahagia, membuat kita bebas.”
Penulis: Talina Cinta Dinnari
