Dosen PSI Fikom Unpad Kembangkan Digitalisasi Wayang Golek Berbasis AI untuk Pelestarian Budaya

Bandung, Januari 2025 – Tim peneliti dari Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran berhasil meraih hibah penelitian dari Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi (Dikti) untuk mengembangkan model pelestarian budaya berbasis teknologi kecerdasan buatan (AI). Penelitian ini berfokus pada digitalisasi wayang golek Sunda, salah satu warisan budaya takbenda yang telah diakui UNESCO sejak 2003.

Penelitian dilakukan oleh Dr. Ute Lies Siti Khadijah, Dr. Elnovani Lusiana, Rahmat Alfin Valentino, M.I.Kom., dan Lutfi Khoirunisa, M.I.Kom.. Sejumlah mahasiswa juga turut dilibatkan dalam riset kolaboratif ini, antara lain Silmi Syahra Shaumi, Muhammad Ryananda Yusmayana, Winnuar Dwina Novarani, Annisya Disa Astrina, dan Irham Hanif Nabawi.

Latar belakang penelitian ini berangkat dari kondisi krisis regenerasi wayang golek di Jawa Barat. Berdasarkan data Balai Pelestarian Kebudayaan Wilayah IX (2023), jumlah kelompok wayang di Kota Bandung menurun dari 53 kelompok pada 2012 menjadi hanya 29 kelompok pada 2022. Selain itu, survei Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Kota Bandung (2023) menunjukkan hanya 12% generasi muda (usia 18–30 tahun) yang pernah menonton pertunjukan wayang dalam lima tahun terakhir.

Melihat kondisi tersebut, penelitian ini bertujuan memperkuat peran institusi memori—seperti perpustakaan, arsip, dan museum—dalam pelestarian warisan budaya takbenda melalui digitalisasi berbasis AI. Metode yang digunakan adalah mix method yang menggabungkan wawancara mendalam, observasi partisipatif, survei, hingga uji coba sistem AI, dengan pendekatan action research untuk melibatkan komunitas budaya secara langsung.

Ruang lingkup penelitian mencakup dokumentasi pertunjukan, klasifikasi elemen wayang, hingga pengembangan prototipe platform digital interaktif yang memungkinkan masyarakat mengakses pengetahuan budaya secara lebih luas. Proyek ini juga mendorong kolaborasi dengan komunitas dalang, sanggar seni, serta institusi memori di Jawa Barat untuk memastikan hasil penelitian dapat diimplementasikan secara berkelanjutan.

Upaya ini sejalan dengan SDG 4 (Quality Education) melalui penguatan literasi budaya generasi muda, sekaligus mendukung SDG 9 (Industry, Innovation, and Infrastructure) dengan pemanfaatan teknologi AI dalam inovasi pelestarian budaya. Melalui riset ini, tim peneliti berharap wayang golek tidak hanya bertahan sebagai tradisi, tetapi juga bertransformasi menjadi warisan budaya digital yang relevan dengan perkembangan zaman. (SNA)

Share this: