Irfan Fransisco: Hidupkan Asa Lewat Perpustakaan Jalanan

Irfan Fransisco merupakan mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 2025 yang mendirikan Perpustakaan Jalanan Pendopo di kampung halamannya, Kecamatan Pendopo, Kabupaten Empat Lawang, Sumatera Selatan. Baginya, kesempatan untuk berkuliah menjadi hal yang istimewa karena di daerah tempat ia dibesarkan, masih sedikit masyarakat yang mampu dan ingin melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi. Berangkat dari pengalaman tersebut, Irfan ingin menghadirkan akses pendidikan, terutama literasi yang lebih dekat bagi anak-anak di daerahnya.

Potret Irfan Fransisco, pendiri Perpustakaan Jalanan Pendopo

Awal Mula Tumbuh Rasa Cinta terhadap Literasi

Ketertarikan Irfan terhadap dunia literasi dimulai sejak ia kecil. Saat masih tinggal di Pekanbaru bersama sang ibu, ia terbiasa membaca buku dan majalah anak. Lingkungan sekolahnya juga memiliki program literasi yang baik sehingga ia akrab dengan budaya membaca sejak dini.

Pengalaman itu sangat berbeda ketika ia kembali ke kampung halamannya, Empat Lawang. Di sana, Irfan hampir tidak menemukan akses bacaan yang mudah dijangkau anak-anak. Selama menjalani sekolah di Empat Lawang, ia melihat sendiri bagaimana banyak anak tumbuh dengan fasilitas literasi yang terbatas. Irfan juga melihat bahwa banyak anak di daerahnya belum mampu menuntaskan pendidikan formal, bahkan rata-rata lama sekolah masyarakat hanya setara kelas 2 SMP.

Kondisi tersebut akhirnya membuat Irfan berpikir bahwa pendidikan tidak boleh berhenti hanya karena seseorang lahir di daerah terpencil.

Lahirnya Perpustakaan Jalanan Pendopo

Keinginan mendirikan perpustakaan semakin kuat ketika Irfan mengikuti ospek jurusan Perpustakaan dan Sains Informasi. Dalam sesi diskusi bersama dosen, ia menyampaikan keresahannya mengenai minimnya akses literasi di Kabupaten Empat Lawang. Saat itu, ia menyadari bahwa daerahnya membutuhkan ruang membaca yang lebih dekat dan mudah diakses masyarakat.

Irfan Fransisco bersama Steven dan Derliansya, para inisiator Perpustakaan Jalanan Pendopo

Namun, sebagai mahasiswa yang merantau dengan segala keterbatasannya, membuat perpustakaan bukanlah perkara mudah. Ia memulai segalanya dari nol, seperti belajar langsung ke Perpustakaan Jalanan Jatinangor untuk memahami cara mengelola komunitas literasi berbasis donasi buku. Setelah itu, ia mulai mengumpulkan buku secara mandiri dan membangun Perpustakaan Jalanan Pendopo bersama inisiator lain di kampung halamannya.

Setiap hari Sabtu, mereka menggelar terpal di pinggir jalan dan membuka lapak baca gratis untuk anak-anak. Tempat sederhana itu kian berubah menjadi ruang berdiskusi dan belajar bersama. Anak-anak yang sebelumnya jarang menyentuh buku kini mulai datang rutin setiap minggunya.

Perjuangan Menjaga Gerakan Literasi

Perjuangan mulai terasa ketika Irfan harus kembali ke Jatinangor untuk berkuliah. Ia tetap mengatur operasional perpustakaan dari jarak jauh melalui teman-teman di sana. Irfan juga menerapkan ilmu-ilmu yang ia pelajari di bangku kuliah untuk memilih buku yang sesuai dengan kebutuhan anak-anak di Pendopo. Bagi Irfan, Perpustakaan Jalanan Pendopo lebih dari sekedar tempat meminjam buku. Ia berharap tempat ini menjadi ruang sosial dimana semua orang bisa berdiskusi dan bertukar pikiran.

Perjalanan Irfan tentu tidak selalu berjalan mulus. Banyak tantangan dan hambatan yang dihadapi, termasuk kondisi infrastruktur jalan buruk yang sering menghambat mobilisasi buku. Ia bahkan pernah mengalami kecelakaan akibat jalan berlubang. Selain itu, masih banyak masyarakat yang belum memahami pentingnya literasi karena selama ini akses tersebut memang minim tersedia.

Meski demikian, Irfan memilih untuk tetap bertahan. Kehadiran anak-anak setiap minggu secara konsisten menjadi alasan terbesar mengapa ia terus menjalankan gerakan ini. Ia percaya bahwa perubahan besar bisa dimulai dari langkah kecil yang dilakukan secara terus menerus.

Harapan Irfan untuk Generasi Muda

Mengutip dari Anies Baswedan, Irfan meyakini bahwa pendidikan adalah tanggung jawab setiap orang terdidik. Karena itu, ia ingin Perpustakaan Jalanan Pendopo terus ada di tengah-tengah masyarakat dan menjadi ruang harapan bagi anak-anak di daerahnya.

“Di kehidupan yang hanya sekali ini, jadilah orang baik. Orang yang bermanfaat bagi sesama” ujar Irfan.

Penulis: Meutia Izzati Humaira

Share this: