Membangun karier mahasiswa tidak harus menunggu hingga ijazah ada di tangan. Naomi Ursula Prastilia, mahasiswi Perpustakaan dan Sains Informasi, membuktikan hal tersebut. Berperan aktif sebagai Wakadep Riset dan Data Analisis BEM FIKOM, asisten dosen statistika, sekaligus peraih Juara 2 Liblicious Epicentrum 2026, ia menjadikan masa kuliah sebagai arena penuh aktivitas yang saling menguatkan.”
Magang di TIM: Ketika Teori Dibenturkan dengan Realita
Pengalaman magang sebagai pustakawan di Perpustakaan Jakarta-Cikini Taman Ismail Marzuki (TIM) menjadi titik balik penting bagi Naomi. Di sanalah ia menyadari bahwa hafalan teori tidak bisa menaklukkan dunia kerja.
“Dunia kerja itu dinamis banget dan butuh fleksibilitas yang tinggi.Teori di kuliah itu memang pondasi awal, tapi saat terjun ke lapangan, kita bakal menghadapi challenges yang variatif,” ceritanya. Ia pun belajar bahwa ia harus memodifikasi solusi di lapangan dari teori yang ada, dan cara mengomunikasikan solusi tersebut menjadi kunci untuk menuntaskan masalah secara benar.
Tak kalah penting, magang juga mengubah cara pandangnya tentang lingkungan kerja. Sebelumnya ia membayangkan dunia profesional itu kaku dan penuh tekanan. Kenyataannya berbicara sebaliknya: “Kalau kita dapat lingkungan kerja yang suportif dan staf yang asik, kerja itu justru jadi tempat belajar yang seru banget.”
Wakadep Riset dan Data Analisis BEM FIKOM: Data Tidak Pernah Bohong
Peran Naomi sebagai Wakil Kepala Departemen Riset dan Data Analisis di BEM FIKOM bukan sekadar jabatan. Ia percaya penuh bahwa data adalah fondasi dari setiap keputusan yang baik. “Data itu sifatnya jujur dan punya makna. Kita tidak bisa hanya nebak fenomena sosial begitu saja dengan adanya riset dan data, kita bisa lihat polanya, trennya, sampai nanti kasih solusi yang berbasis bukti,” ungkapnya.
Namun menjalankan departemen riset di tingkat organisasi kampus bukan tanpa tantangan. Naomi menghadapi dua sisi kesulitan sekaligus: manajerial dan teknis. Dari sisi internal, menjaga rasa memiliki anggota tim, menyamakan jadwal rapat full team, hingga menangani anggota yang mulai pasif adalah pekerjaan yang menguras energi. Dari sisi teknis, mengumpulkan responden survei dari warga FIKOM yang belum sepenuhnya sadar pentingnya partisipasi riset menjadi perjuangan tersendiri.
Untuk mengatasinya, Naomi mengandalkan sistem manajemen waktu yang ketat: to-do list harian, kalender kegiatan lengkap dengan jam dan detail, serta komunikasi terbuka dengan sesama anggota tim agar bisa saling backup ketika jadwal berbenturan.
Asisten Dosen Statistika: Belajar Mengajar, Bukan Sekadar Mengajar
Kesibukan Naomi tidak berhenti di organisasi. Semester ini ia juga dipercaya menjadi asisten dosen mata kuliah Statistika untuk mahasiswa angkatan 2024 program studi Perpustakaan Sains dan Informasi Universitas Padjadjaran. Pengalaman ini, katanya, membuka perspektif yang sama sekali baru.
“Kalau pas jadi mahasiswa kan cuma mikir gimana cara kita paham, tapi pas jadi asdos, itu mikir gimana menyederhanakan materi yang rumit jadi mudah dicerna,” jelasnya. Ada kepuasan tersendiri yang ia rasakan ketika melihat mahasiswa bimbingannya mengerjakan tugas dengan benar tanda bahwa ilmu berhasil tersampaikan, bukan sekadar dijelaskan.
Pengalaman ini juga mempertegas keyakinannya soal pentingnya skill riset. Bagi Naomi, kemampuan mengolah data bukan hanya urusan akademis — ini soal melatih cara berpikir kritis mengkurasi informasi yang valid, menganalisis masalah secara sistematis, dan mengambil keputusan berdasarkan bukti nyata.
Juara 2 Liblicious Epicentrum 2026: Perpustakaan sebagai Solusi Bullying
Di antara sederet aktivitasnya, ada satu pencapaian yang paling berkesan bagi Naomi tahun ini. Ia meraih Juara 2 di Liblicious Epicentrum Universitas Padjadjaran 2026 bersama timnya.
Mereka membawa gagasan krusial untuk mencegah bullying. Gagasan ini menjembatani perpustakaan anak dengan orang tua melalui platform digital. Mereka juga melengkapinya dengan model yang dapat mereka uji coba secara nyata di sekolah dasar.
Ia menggunakan strategi yang mencerminkan pengalamannya di dunia riset dan organisasi. Strategi ini membantu Naomi membangun karier mahasiswa yang naratif dan solutif agar tidak membosankan audiens. Terakhir, ia memadukan langkah tersebut dengan pembawaan yang percaya diri.
“Audiens harus mengerti solusi inovatif yang kita tawarkan, bukan hanya terdengar keren,” tegasnya.
Pesan untuk Mahasiswa: Gas Dulu, Jangan Nunggu Siap
Dari perjalanan panjang dari magang, organisasi, mengajar, hingga lomba. Naomi hanya punya satu pesan inti untuk mahasiswa yang masih ragu untuk memulai:
“Jangan nunggu ngerasa siap atau nunggu pinter dulu baru mau coba sesuatu. Gas aja dulu, rasain dinamikanya — karena ketidaksiapan itu yang justru bikin kita bertumbuh jadi versi terbaik kita.”
Ke depannya, Naomi memiliki target yang jelas: terlibat dalam proyek pengembangan sistem literasi Indonesia. Visi tersebut menyelaraskan semua hal yang selama ini ia pelajari dan jalani. Ia meyakini bahwa ilmu perpustakaan dan sains informasi bukan hanya soal buku. Sebaliknya, bidang ini harus mengalirkan pengetahuan menjadi solusi nyata bagi masyarakat.

