Workshop “Data di Balik Layanan” Bekali Pengelola Repositori dengan Keterampilan Data Intelligence: Sesi 2

Jatinangor, Selasa 30 Juni 2026 – Laboratorium Perpustakaan Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran bekerja sama dengan Difoss Holding menyelenggarakan hari kedua atau Sesi 2 dari Workshop Data Intelligence for Information Services bertajuk “Data di Balik Layanan”. Peristiwa yang berlangsung secara daring melalui platform Zoom Meeting bertujuan untuk meningkatkan kualitas pengelolaan data dan layanan informasi berbasis bukti. 

Rangkaian acara pada sesi ini dipandu secara interaktif oleh Nazwa Azzahwa selaku MC/Moderator. Workshop hari kedua ini menghadirkan Febriyanti Bifakhlina, S.IIP., M.P., dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi Unpad, sebagai pemateri utama yang membimbing para pengelola repositori dan perpustakaan dalam menguasai analitik data lanjutan.  

Dalam penjelasannya, pemateri menguraikan bahwa Omeka merupakan platform berbasis MySQL yang berfokus pada pengelolaan dan pameran koleksi digital seperti arsip, foto, dan benda-benda budaya. Pemateri mengupas tuntas standar metadata Dublin Core yang diimplementasikan dalam sistem tersebut, namun ia memberikan catatan kritis mengenai adanya keterbatasan dari sisi semantik karena kosakata yang digunakan masih didominasi oleh Dublin Core Terms (dcterms), sementara aspek hak akses atau lisensi (rights) belum terisi secara optimal. Melalui pembedahan data ini, peserta diingatkan tentang pentingnya mendeteksi serta menghindari duplikasi metadata karena hal tersebut berisiko memengaruhi akurasi perhitungan data pada dashboard, meningkatkan potensi kesalahan kurasi, dan menurunkan kualitas pengelolaan koleksi digital secara keseluruhan.  

Setelah pemaparan materi teoretis selesai dan menjadi landasan pemahaman, para peserta langsung diarahkan untuk melakukan sesi praktikum secara mandiri. Pada tahapan praktik ini, peserta melakukan penginputan instrumen metadata secara langsung pada platform Omeka S guna memahami pemetaan kurasi digital. 

Sesi kemudian dilanjutkan dengan mempraktikkan penggunaan SLiMS, sebagai sistem otomasi perpustakaan yang andal untuk mengelola data koleksi dan sirkulasi layanan perpustakaan secara nyata. Kombinasi pengenalan kedua platform ini melatih peserta agar mampu membedakan orientasi data operasional pada SLiMS dengan karakteristik data kuratorial semantik yang ada pada Omeka.  

Pada sesi terakhir workshop, peserta diperkenalkan dengan tahapan awal pengolahan data analitik menggunakan lingkungan interaktif Google Colab. Tahapan ini dimulai dengan melatih peserta mengunggah file data layanan, memeriksa keberadaan serta ukuran file menggunakan modul pathlib, serta memanfaatkan pustaka Pandas untuk membaca data ke dalam struktur Data Frame. Namun, dalam jalannya praktikum tersebut ditemukan sebuah kendala teknis yang nyata karena file basis data yang digunakan berupa format omeka.sql (basis data SQL), sementara instruksi kode yang sejatinya hanya dapat membaca file berekstensi CSV. Teknis ini menjadi bahan pembelajaran berharga bagi peserta mengenai pentingnya pemahaman format data, sehingga diperlukan langkah tambahan seperti mengimpor database SQL tersebut ke dalam sistem manajemen database terlebih dahulu atau melakukan konversi ke format CSV terlebih dahulu sebelum data dapat dianalisis menggunakan Python.  

Secara keseluruhan, Sesi 2 dari workshop kolaboratif ini berhasil membekali para pengelola repositori dengan kapasitas teknis untuk mengubah data mentah menjadi keputusan yang terukur.

Share this: