SUMEDANG, Selasa, 9 Juni 2026– Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi Universitas Padjadjaran (Unpad) sukses menyelenggarakan Kuliah Umum (General Lecture) bertajuk “Community Information, Media, And Digital Literacy”. Acara yang berlangsung pada Selasa (09/06/2026) pukul 08.00–11.00 WIB ini digelar secara hibrid, yakni secara luring di Auditorium Pascasarjana Fakultas Ilmu Komunikasi (Fikom) Unpad dan disiarkan secara daring melalui live streaming di kanal YouTube @Perpustakaan.SainsInformasi. Acara ini dihadiri oleh jajaran dosen serta mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi yang antusias menyimak pemaparan materi dari para pakar.
Kegiatan dibuka secara resmi dengan sambutan hangat dari Dr. Saleha Rodiah selaku Ketua Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi, dilanjutkan oleh Dr. Ira Mirawati, M.Si. selaku Wakil Dekan Bidang Akademik, Kemahasiswaan, dan Riset Fikom Unpad. Dalam sambutannya, Dr. Ira Mirawati, M.Si. menyampaikan bahwa kuliah umum tersebut diadakan agar mahasiswa memahami bagaimana memanfaatkan dan mengelola media secara strategis sebagai sarana pembelajaran yang adaptif, interaktif, dan efektif di era digital. Sejalan dengan hal tersebut, Dr. Saleha menyampaikan bahwa kuliah umum ini diselenggarakan sebagai bagian dari komitmen prodi untuk terus memperbarui pemahaman akademik mengenai lanskap informasi digital. Menurutnya, pemaparan dari para narasumber memberikan pencerahan penting tentang sisi lain dari literasi informasi, media, dan digital yang langsung menyentuh aspek komunitas masyarakat.
Dipandu oleh moderator Wina Erwina, M.A., Ph.D., sesi pemaparan materi pertama disampaikan oleh Prof. Dr. Mega Subramaniam, Ph.D., seorang Profesor dari College of Information, University of Maryland, USA yang juga merupakan Fulbright Scholar di Universitas Gadjah Mada. Prof. Mega membedah konsep praktik informasi digital yang merujuk pada cara-cara sosial dan budaya masyarakat dalam mencari, membuat, mengevaluasi, menggunakan, dan membagikan informasi di lingkungan digital. Ia menekankan pentingnya perpustakaan modern bertransformasi menjadi ruang pembelajaran interaktif yang mendukung berbagai modalitas belajar generasi muda melalui pendekatan Connected Learning (Pembelajaran Terhubung).
Dalam presentasinya, Prof. Mega mengenalkan budaya partisipatori remaja yang disebut HOMAGO (Hanging Out, Messing Around, Geeking Out). Beliau memaparkan lima contoh program perpustakaan berbasis Connected Learning, di antaranya SciDentity (program menulis cerita sains untuk remaja kurang beruntung), HackHealth (edukasi akses informasi kesehatan kredibel bagi siswa SMP), Teen Squad, Connected Camps (klub gim video edukatif seperti Minecraft selama pandemi), hingga program Slowest Computer on Earth untuk belajar konsep dasar kodifikasi. Melalui contoh-contoh ini, Prof. Mega menegaskan bahwa tugas utama perpustakaan masa kini adalah menjadi tempat yang menyenangkan dan menarik, yang mampu mengoneksikan minat, hubungan sosial, dan peluang bagi generasi muda secara populer.
Sesi kedua dilanjutkan oleh Prof. Agus Rusmana, M.A., yang membawakan topik krusial mengenai “Pengenalan Budaya Lokal Pencegah Serangan Informasi Rekayasa Digital”. Prof. Agus menyoroti bagaimana kehadiran teknologi digital, terutama Artificial Intelligence (AI), telah mendistorsi tujuan komunikasi secara luar biasa. Di era sebelum AI, pesan dibuat untuk menghibur atau mengubah perilaku ke arah yang positif. Namun kini, kehadiran teknologi AI sering kali disalahgunakan untuk menciptakan realitas palsu (real fake) baik berupa gambar, suara, maupun video rekayasa yang tidak memiliki tujuan objektif, melainkan hanya untuk sekadar bersenang-senang (fun) atau bahkan menipu (cheat).
Sebagai langkah preventif, Prof. Agus mengimbau agar masyarakat tidak langsung menerima (accept) informasi digital secara mentah-mentah, melainkan wajib melakukan verifikasi dan pengecekan ulang sumber daya secara mandiri. Ia menegaskan bahwa keakraban terhadap budaya lokal (local culture familiarity) dapat menjadi benteng pertahanan yang kuat dalam mengenali rekayasa informasi atau hoaks. Guna mendeteksi pesan yang palsu, masyarakat harus selalu mengajukan pertanyaan kritis tentang kebenaran informasi tersebut, mengandalkan pengetahuan teknik digital, berpikir logis, memanfaatkan pengalaman, serta jeli memperhatikan kesesuaian gerak-gerik, ekspresi, dan kebiasaan manusia dengan konteks budaya lokal mereka.
Penulis: Evi Nursanti Rukmana


