Akademisi PSI Fikom Unpad Gagas Penguatan Jati Diri Bangsa Melalui Buku Literasi Budaya

Empat akademisi, Samson CMS, Kusnandar, Wina Erwina, dan Pawit M. Yusup, telah menerbitkan sebuah buku penting berjudul “Literasi Budaya: Mengenal dan Membangun Jati Diri Bangsa”. Buku yang terbit pada tahun 2024 ini merupakan sebuah upaya untuk mendukung program Gerakan Literasi Nasional (GLN) yang dicanangkan pemerintah, khususnya dalam pilar literasi budaya dan kewargaan.

Latar belakang penulisan buku ini adalah sebagai respons terhadap tantangan dalam membangun karakter bangsa. Para penulis bertujuan agar setiap warga negara Indonesia memiliki kemampuan untuk memahami dan bersikap arif terhadap kebudayaan nasional yang beragam. Menurut mereka, kemampuan masyarakat untuk menerima, beradaptasi, dan bersikap bijaksana atas keberagaman inilah yang akan menjadi sumber kekuatan sejati bangsa Indonesia di tengah persaingan global.

Secara garis besar, buku ini membahas literasi budaya sebagai fondasi krusial dalam memperkuat jati diri bangsa. Pembahasan di dalamnya sangat komprehensif, mengkaji berbagai topik mulai dari konsep dasar literasi budaya, praktik berbagi pengetahuan di lingkungan pedesaan, hingga peran vital perpustakaan desa sebagai pusat pembelajaran dan pelestarian budaya bagi masyarakat.

Lebih dalam, buku ini juga menyoroti pentingnya sistem pengetahuan lokal (indigenous knowledge) dan pendokumentasian kearifan lokal. Salah satu studi kasus yang diangkat adalah pelestarian tradisi melalui kisah-kisah budaya di Tatar Karang, termasuk penggalian makna dan simbolisme dalam wawadahan (peralatan upacara/hajatan). Keseluruhan isi buku menekankan hubungan erat antara literasi budaya, identitas, dan relevansi warisan lokal di era modern.

Para penulis mengajak pembaca untuk merenung melalui sebuah ungkapan Sunda, “peso pangot ninggang lontar daluan katinggang mangsi sugan katuliskeun diri”, yang bermakna harapan agar pengetahuan dapat terdokumentasi. Mereka menyoroti bahwa dari serpihan kecil budaya seperti peralatan perhelatan Sunda saja, terkandung segudang ilmu pengetahuan.

“Betapa arif dan bijaksananya leluhur kita dalam membuat sebuah karya budaya. Pengetahuan asli kita ini dapat menjadi kekuatan kita dalam berkarya untuk kiwari (hari ini) dan baring supagi (masa akan datang),” tulis para penulis dalam pengantarnya. Buku ini menjadi penegas bahwa warisan leluhur bukanlah sesuatu yang usang, melainkan sumber kekuatan untuk menghadapi tantangan zaman.

Artikel selengkapnya tersedia di: http://media.unpad.ac.id/files/publikasi/2025/rpm_20250209192708_2152.pdf

Penulis: Ridha Amalia, Nadziva Shaqeena, dan Ariel Mohammad Alief Yusuf

Share this: