Bandung, Agustus 2025 – Sebuah komunitas bernama Penaku menginisiasi gerakan pelestarian dan penyebaran naskah-naskah kuno di daerahnya. Komunitas ini mengumpulkan berbagai Naskah lama yang hampir terlupakan dan bekerja sama dengan pustakawan, ahli sejarah, dan penggiat budaya untuk mendokumentasikan, memfasilitasi akses, dan menyebarluaskan kandungan budaya serta literer dari naskah-naskah tersebut ke publik.
Komunitas Penaku terdiri dari para relawan, penggiat budaya, serta masyarakat lokal yang memiliki kepedulian terhadap warisan budaya takbenda. Kegiatan mereka meliputi penelusuran naskah di rumah-rumah warga, foto/digitalisasi, pembacaan publik, diskusi interpretatif, hingga workshop menulis ulang teks dengan pengantar modern agar bisa dipahami generasi muda.
Motivasi dari komunitas ini adalah kekhawatiran bahwa banyak naskah kuno yang rusak, hilang, atau tidak terawat, sehingga nilai sejarah, bahasa, dan estetika yang terkandung di dalamnya tidak tersampaikan ke generasi berikutnya. Komunitas ini melihat bahwa akses terhadap literasi budaya harus dipertahankan agar identitas lokal tidak memudar.
Metode yang digunakan melibatkan kerja intensif di lapangan: identifikasi naskah, wawancara pemilik naskah, digitalisasi naskah, kolaborasi dengan museum/perpustakaan lokal, serta penyediaan akses publik melalui media daring dan pameran lokal. Komunitas juga mengundang sinergi dengan akademisi untuk analisis kandungan naskah dan pelestarian bahasa/kiasan lokal.
Gerakan ini memiliki beberapa tantangan, antara lain sumber daya keuangan yang terbatas, keterbatasan teknologi digital, masalah hak cipta atau kepemilikan naskah, dan kurangnya dokumentasi resmi. Namun, antusiasme warga muda sangat tinggi, yang melihat nilai dari identitas budaya lokal sebagai bagian dari kebanggaan komunitas.
Inisiatif komunitas Penaku ini sangat relevan dengan SDG 4 (Pendidikan Berkualitas) karena memperluas akses masyarakat ke warisan budaya sebagai bagian dari literasi sejarah dan budaya, serta SDG 11 (Kota dan Permukiman Berkelanjutan) karena mendukung pelestarian budaya lokal dan identitas sebagai unsur penting keberlanjutan komunitas.
Penulis: Evi Nursanti Rukmana, Febriyanti Bifakhlina, Shelpi Nur Awaliyah