Kesuksesan seorang lulusan bermula dari cita-cita yang diimpikan sejak awal. Hal ini dimulai dari ‘modal nekat’, berani mencoba hal yang baru, dan memanfaatkan kesempatan yang datang. Itulah pengalaman yang disampaikan Priatna, M.Si., M.M., pada Kuliah Umum Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi pada Rabu, 16 Februari 2022, melalui virtual Zoom dan YouTube. Priatna, M.Si., M.M., merupakan lulusan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (saat itu masih bernama Jurusan Ilmu Perpustakaan) yang telah konsisten selama 30 tahun dalam bidang Perpustakaan dan Informasi.

Menurut Priatna, M.Si., M.M., hampir 100% pustakawan dibutuhkan lembaga pemerintahaan saat Penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS). Lulusan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi pun banyak tersebar di lembaga swasta, namun pustakawan yang memiliki kompetensi sulit ditemukan.

Untuk itu, Priatna, M.Si., M.M. menyarankan bahwa lulusan Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi harus mempersiapkan 4 langkah, di antaranya kemampuan bahasa Inggris, komunikasi, IT, dan portofolio. Bahasa inggris merupakan sebuah keharusan. “Ketika saya menghindari untuk berbahasa Inggris, maka saya telah kehilangan banyak kesempatan”, ujar Priatna. Bahasa Inggris sebagai kunci untuk mendapatkan beasiswa, meluaskan jaringan, mengenal negara lain, dan meningkatkan karier.
Pustakawan pun harus mengasah kemampuan berkomunikasi. Berdasarkan pengalaman Priatna, M.Si., M.M., sebagai Manajer IT, pustakawan harus mampu menjalin pola komunikasi yang baik dengan IT lembaga tempat bekerja. Pustakawan harus berani mengambil keputusan dan bekerja untuk mengembangkan inovasi dan improvisasi di lingkungan kerja. Selain itu, pustakawan harus berusaha menguatkan kompetensi diri dalam menghadapi relasi atau jaringan di dunia kerja. Seperti Priatna sampaikan bahwa, “Tanpa relasi tidak ada informasi. Era sekarang bukan lagi era informasi, tapi era informasi jaringan. Sekarang berubah. Siapa menguasai jaringan akan menguasai dunia.”
Pustakawan pun harus memahami IT dalam menjawab tantangan yang diberikan lembaga tempat bekerja. Priatna, M.Si., M.M., bercerita bahwa tantangan adalah gerbang perubahan. Perpustakaan Tempo pun menghadapi berbagai tantangan yang justru membuat perpustakaan makin berkembang. Tantangan pertama ialah bagaimana koleksi perpustakaan dapat semua digunakan. Kemudian tantangan kedua bagaimana koleksi perpustakaan dapat dimanfaatkan selama 24 jam. Tantangan ketiga yakni bagaimana perpustakaan dapat mendukung dalam kegiatan profit.
Kegiatan digitasi berhasil membawa perubahan bagi perpustakaan sebagai pusat pengetahuan dan kegiatan profit lembaga. “Kemampuan IT merupakan bekal. Pustakawan dapat belajar bahasa IT, tanpa berperan sebagai programmer”, saran Priatna. Hal ini selaras dengan pertanyaan seorang mahasiswi mengenai peran pustakawan dalam kegiatan data analytics. Perpustakaan dan Sains informasi dekat sekali dengan kegiatan data analytics, misalnya ilmu klasifikasi dan katalogisasi. Priatna menjelaskan bahwa saat membuat data analytics, pustakawan membuat data structural, seperti metadata dalam katalog. Untuk itu, mahasiswa dapat memperkuat keahlian dalam Microsoft Excell sebagai alat dalam pengolahan data. Terakhir, pustakawan harus membuktikan keahlian yang dimiliki melalui penyajian portofolio yang dapat diakses. Pengalaman berorganisasi, magang, praktik lapangan, dan kerja dibuktikan dengan hasil karya yang telah dibuat. Dengan demikian, lulusan pustakawan harus mengasah terus keahlian di bidang perpustakaan dan informasi agar lulusan dapat berinovasi yang selaras dengan kebutuhan pengguna saat ini. Salah satunya ialah memupuk kegiatan membaca sebagai senjata utama pustakawan. Membaca membukakan gerbang pustakawan untuk percaya diri mengembangkan diri lebih baik lagi. “Pustakawan pun akan jauh lebih kompeten”, ujar Priatna. (ENR)