Peningkatan Pengetahuan Aksara Sunda di Kemah Literasi FTBM Sumedang 2023

Dosen Prodi Perpustakaan dan Sains Informasi, Bapak Samson CMS., M.I.Kom., menjadi pembicara pada kegiatan Kemah Literasi 2023 yang diselenggarakan oleh Forum Taman Bacaan Sumedang (FTBM) Sumedang. Kegiatan yang mengusung tema “Menjadi Kaum Literat, Menuju Generasi Hebat” di diselenggarakan di Kabupaten Sumedang pada Sabtu-Minggu (16-17/12/2023).

Pada kegiatan ini, Bapak Samson memberikan materi berjudul “Aksara Sunda, Penggiat Literasi dan Warisan Budaya & Pewarisan.” Terdapat beberapa poin penting yang beliu sampaikan, yaitu (1) Landasan filosofi dan histori sebuah aksara oleh bangsa/suku, (2) Cara mudah memperkenalkan aksara warisan leluhur Sunda, (3) Manfaat dari mengenal aksara leluhur (Aksara Sunda) bagi masyarakat umum, intelektual, biroktorat sipil, dan militer serta para penggiat literasi, dan (4) Aksara Sunda sebagai bukti Warisan Inetelektual Bangsa. Ke empat materi tersebut disampaikan dengan metode Forum Disscussions Group (FGD) dengan pola komunikasi secara dialogis-interaktif. Beliau menggunakan kartu yang bernama Kartu Perperan yang beliau buat sendiri sebagai media belajar Aksara Sunda. 

Beliau menyampaikan bahwa mengetahui Aksara Sunda sangatlah penting terutama dalam meningkatkan literasi karena literasi berawal dari keberaksaraan. Beliau menambahkan bahwa keberaksaraan adalah bagaimana individu/kelompok/bangsa/negara memiliki kesadaran untuk mengakses budaya leluhurnya, baik tangible cultural heritage maupun intangible cultural heritage, menjadi (data-informasi-pengetahuan sampai dengan menjadi kebijakan/kebijaksanaan) dalam membuat segala keputusan bangsanya dalam menapaki hidup yang harmonis di dalam persainga global. Aksara Sunda sendiri adalah merupakan warisan leluhur bangsa dan merupakan alat perekam peradaban dan sudah terdaftar di Badan Aksara Sunda dunia yang disebut UNICODE. Bagi Bapak Samson, masyarakat yang semakin mengenal kebudayaanya, mereka semakin mengenal inti jati dirinya (mengenal bangsanya sendiri), mengenal warisan peradaban leluhurnya, dan akhirnya mereka cenderung menjadi lebih arif dan bijaksana, sesuai dengan bagaimana leluhur mereka hidup dan berkehidupan.

“Dengan mengenal saja aksara warisan leluhur apapun suku Anda, kita akan mampu mengkases memori kolektif bangsa kita dari masa lalu hingga masa kini, dan untuk akan datang, kitalah yang harus menciptakannya untuk kita warisakan ke anak cucu kita dimasa akan datang. Bukankah Sunda bilang “diteundeun dihandeuleum hieum, ditunda di hajuang siang, pikeun nyoko././…t ninggalkeun” – “ti Bihari, kiwari jang baring supagi”. Peribahasa ini, sangat penting untuk saya yang belajar ilmu perpustakaan dan sains informasi dan juga tentu untuk para penggiat literasi dimanapun” Ungkap Beliau. Dalam perjalannya, Bapak Saomson belajar banyak dari Bapak Dr. Undang A. Darsa dan Bapak Hidayat Surgalaga yang merupakan guru dan tutor beliau dalam memperdalam kajian Budaya Sunda.

Dilansir dari inimahsumedang.com peserta yang ikut pada kegiatan ini adalah para pegiat literasi, guru, dan pelajar. Selain itu, hadir pula Kepala Dinas Arsip dan Perpustakaan Sumedang, Kepala Dinas Pendidikan Sumedang, Ketua Pengurus Pusat Forum TBM Sumedang, Pengurus Wilayah Forum TBM Jawa Barat dan Dosen Universitas Padjadjaran. Peserta pun sangat antusias mempelajari Aksara Sunda. Bahkan Bapak Samson menuturkan bahwa beliau melihat falsifah-falsifah Sunda pada mereka.

Aksara Sunda menjadi salah satu budaya yang sangat kruisial bagi Suku Sunda dan Budaya Indonesia. Bapak Samson menyampaikan harapannya untuk perkembangan Aksara Sunda, yaitu, (1) Semoga perguruan tinggi yang ada di Jawa Barat, bisa memasukkan Aksara Sunda dan kebudayaan Sunda setidaknya menjadi materi dari matakuliah (MKSDU) atau jadi matakuliah tersendiri. Katanya, ada perguruan tinggi yangg sudah melakukan itu, semoga betul. (2) Untuk di kampus tercinta (Unpad), setidaknya nama-nama fakultas, gedung/ruangan, mobil-mobil Unpad ditulis dengan dua aksara (Sunda dan Latin) dan termasuk berbagai kegiatan (baligo, sepanduk, kaos, dll) selalu dimunculkan Aksara Sunda, bahkan beliau memimpikan kop surat gunakan Aksara Sunda. (3) Aksaran Sunda bisa jadi materi di abstrak karya ilmiah di perguruan tinggi (skirpsi, tesis, dan disertasi). Jadi abstrak, berbahasa Indonesia, Sunda, Inggris dan gunakan Aksara Sunda. Perguruan tinggi melalui perpustakan universitasnya, menyedikan layanan alih aksara dan penterjemahan ke Bahasa Sunda, dan ini akan menghidupan teman-teman yang belajar Budaya Sunda seperti Prodi Sastra Sunda.

Berikutnya, (4) Dinas Perpustakaan dan Arsip dan Dinas Pendidikan dan Kebudayaan dan dinas-dinas yang memiliki kaitan dengan itu di manapun, dapat memberikan panggung-panggung sebagai ajang apresiasi untuk masyarakat yang memiliki kepedulian dengan dunia Aksara Sunda. Seperti awarding, masyarakat itu butuh pengakuan, penghargaan dan itu bukan urusan uang, tapi pengakuan eksistensi. (5) Untuk para penggiat literasi se-Jawa Barat dan Nusantara, di masing-masing TBM-nya, melalui papan TBM-nya, nama TBM-nya di tulis dengan Aksara Sunda dan di provisni lain dengan asara lokalnya. (6) Nama-nama toko yang ada di jalan utama menggunakan Aksara Sunda. Dan (7) Dinas yang membidangi pariwisata dan pendidikan, nama-nama objek wisata dan nama-nama sekolah menggunakan Aksara Sunda.

Share this: