Sebuah penelitian yang dilakukan oleh Reza Ardhian, Wina Erwina, dan Fitri Perdana telah menyelesaikan studi mendalam mengenai manajemen pengetahuan di Herbarium Bandungense. Penelitian yang dilaksanakan pada tahun 2024 ini secara spesifik mengkaji bagaimana para kurator herbarium melakukan preservasi (pelestarian) pengetahuan kritis mereka melalui tiga proses utama: seleksi, penyimpanan, dan aktualisasi.
Penelitian ini dilatarbelakangi oleh pentingnya peran kurator dalam menjaga koleksi dan data ilmiah di sebuah herbarium, di mana pengetahuan mereka seringkali bersifat unik dan tidak terdokumentasi secara formal. Untuk memahami proses tersebut, tim peneliti menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Data primer digali melalui wawancara mendalam dengan kepala dan kurator Herbarium Bandungense, serta observasi lapangan, sementara data sekunder diperoleh dari literatur dan media sosial.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses manajemen pengetahuan telah berjalan secara sistematis. Pada tahap seleksi, pengetahuan yang diprioritaskan untuk dilestarikan adalah pengetahuan tacit (tidak tertulis) dan informasi yang dapat meningkatkan efektivitas kerja kuratorial. Proses ini juga diperkuat melalui kolaborasi dengan pihak eksternal. Selanjutnya, pada tahap penyimpanan, pengetahuan disimpan dalam tiga bentuk: individu (melalui insentif sosial), kolektif (dalam bentuk Standar Operasional Prosedur/SOP dan manual), serta elektronik (melalui grup obrolan daring).
Pada tahap aktualisasi, pengetahuan yang tersimpan kemudian diterapkan dalam operasional sehari-hari, terutama melalui pedoman SOP dan dalam proses pengambilan keputusan rutin. Proses ini memastikan bahwa pengetahuan yang berharga tidak hanya tersimpan, tetapi juga aktif digunakan untuk keberlangsungan operasional herbarium.
Meskipun prosesnya berjalan baik, penelitian ini juga berhasil mengidentifikasi beberapa tantangan signifikan. Tantangan tersebut meliputi keterbatasan dalam kolaborasi dan sumber daya manusia, kurangnya perhatian dari pihak fakultas terhadap pengelolaan herbarium, serta minimnya keterlibatan kurator dalam pengambilan keputusan strategis yang menyangkut kebijakan keberlanjutan dan efektivitas herbarium.
Berdasarkan temuan tersebut, penelitian ini mengeluarkan tiga rekomendasi utama. Pertama, perlunya peningkatan perhatian dari institusi terhadap kebutuhan herbarium, terutama dalam hal pendanaan dan tenaga kerja. Kedua, disarankan untuk membentuk sebuah asosiasi nasional bagi kurator herbarium di Indonesia guna mendorong pertukaran informasi dan pengetahuan dalam skala yang lebih luas.
Terakhir, dan yang paling krusial, penelitian ini menekankan pentingnya meningkatkan keterlibatan kurator dalam perumusan kebijakan strategis. Dengan melibatkan para ahli di garda terdepan, diharapkan keberlanjutan pengelolaan Herbarium Bandungense dapat lebih terjamin di masa depan.
Artikel selengkapnya tersedia di: http://media.unpad.ac.id/files/publikasi/2025/rpm_20250209074845_9437.pdf
Penulis: Ridha Amalia, Nadziva Shaqeena, dan Ariel Mohammad Alief Yusuf