Mahasiswa PSI Fikom Unpad Kaji Strategi ‘Smart Museum’ di Museum Gedung Sate

Mahasiswa Program Studi Perpustakaan dan Sains Informasi (PSI) Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, Audina Jelang Ramadhan, telah menyelesaikan sebuah artikel ilmiah yang mengkaji strategi pengembangan layanan museum modern. Dalam artikel yang ditulis pada tahun 2025 ini, Audina bersama dosen pembimbing, Wina Erwina dan Asep Saeful Rohman, menganalisis penerapan konsep smart museum di Museum Gedung Sate, Bandung.

Penelitian ini dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mengubah stigma masyarakat yang seringkali menilai museum sebagai tempat yang kuno dan membosankan. Melalui penerapan konsep smart museum, diharapkan museum dapat bertransformasi menjadi sarana edukasi, rekreasi, dan informasi yang menarik dan relevan bagi masyarakat modern, sekaligus meningkatkan budaya literasi dan minat berkunjung.

Seiring dengan kemajuan teknologi, museum di seluruh dunia didorong untuk bertransformasi. Konsep smart museum hadir sebagai jawaban untuk memberikan pengalaman visual yang lebih menarik dan interaktif bagi pengunjung. Untuk memahami penerapannya di Bandung, penelitian ini menggunakan metode kualitatif, dengan pengumpulan data melalui observasi langsung, wawancara, dan studi dokumentasi di Museum Gedung Sate.

Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerapan konsep smart museum di Museum Gedung Sate berpotensi besar dalam menarik minat dan antusiasme pengunjung. Penggunaan elemen visual yang interaktif terbukti mampu meningkatkan keterlibatan emosional pengunjung, sehingga menumbuhkan rasa keterhubungan yang lebih kuat dengan pameran dan konten yang disajikan. Hal ini memberikan pengalaman belajar yang lebih mendalam dan praktis (hands-on).

Secara spesifik, aspek fisik museum telah diperkaya dengan berbagai fitur teknologi canggih, termasuk augmented reality (AR), lantai interaktif, kaca interaktif, virtual reality (VR), ruang audiovisual, bingkai foto interaktif, dan sebuah architarium. Selain teknologi, Museum Gedung Sate juga selaras dengan prinsip smart museum dengan menyediakan layanan pendukung multidisipliner seperti pendidik bersertifikat, food court, kafe, dan toko cenderamata.

Studi ini menyimpulkan bahwa Museum Gedung Sate telah menunjukkan integrasi teknologi yang efektif sebagai strategi pengembangan layanannya. Implementasi komponen smart museum ini tidak hanya berhasil menciptakan pengalaman yang imersif dan aman bagi pengunjung, tetapi juga dapat menjadi model bagi museum-museum lain di Indonesia untuk beradaptasi dan berkembang di era digital.

Artikel selengkapnya tersedia di: http://media.unpad.ac.id/files/publikasi/2025/rpm_20250209074047_9234.pdf

Penulis: Ridha Amalia, Nadziva Shaqeena, dan Ariel Mohammad Alief Yusuf

Share this: